Selasa, 21 Februari 2012
Selasa, 24 Januari 2012
PROFIL Taman Bacaan Masyarakat BONE BULA DONGGALA
Alamat :
JL.
Pelabuhan No. 98
Kelurahan
Boya, Kecamatan Banawa,
Kabupaten
Donggala – Sulawesi Tengah
Nomor Kontak: 081341048000, 0457-71245
PROFIL TBM BONE BULA
Taman Bacaan Bone Bula
merupakan bagian dari unit Yayasan Bone Bula sebagai lembaga swadaya masyarakat
dengan Direktur Andi Anwar di kota Donggala, Sulawesi Tengah yang
aktif sejak 2008. Lembaga ini bergerak pada masalah-masalah lingkungan hidup.
Sedangkan taman bacaan dikelola Jamrin Abubakar bersama staf Bone
Bula. Tempatnya berada di tengah kota yang mudah diakses oleh warga, tepatnya
di Jl. Pelabuhan No 98, Kelurahan Boya, Kecamatan Banawa.
Alamat tersebut merupakan
tempat yang kedua setelah sebelumnya beralamat di rumah kediaman Andi Anwar,
Jl. Bioskop, Kota Donggala yang jaraknya sekitar 1 km dari lokasi sekarang.
Status tempat TBM ini merupakan rumah yang disewa dari seorang warga Donggala
sejak tiga tahun lalu dan masa kontrak diperbarui setiap tahunnya.
Nama Bone Bula
merupakan bahasa Kaili yang merupakan etnis terbesar di Kabupaten Donggala yang
bermakna “Pasir Putih.” Memiliki makna filosofi sebagai daerah pesisir yang
potensial dengan pasir putihnya, lembaga ini berobsesi memiliki cita-cita yang
luas bagai hamparan pasir yang putih dalam pemberdayaan masyarakat dan pelestarian
lingkungan. Salah satunya melalui pembinaan pendidikan nonformal dan penyadaran
lewat bahan bacaan bagi masyarakat umum maupun pelajar. Dalam pelayanan bahan
bacaan, Bone Bula belum melakukan peminjaman pada pengunjung untuk membawa buku
atau majalah ke rumah, sehingga hanya bisa membaca di tempat mengingat tenaga
sangat terbatas.
Taman Bacaan Bone Bula ini
memiliki visi menumbuhkan budaya baca kalangan remaja (pelajar), masyarakat
umum di Kota Donggala dan menjadi perpustakaan alternatif. Sekaligus dapat
mendukung sebagian dari upaya Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah
Kabupaten Donggala dalam menumbuhkan budaya baca.
Selain menyediakan bahan
bacaan yang berupa buku-buku berbagai jenis yang dapat dibaca setiap
pengunjung, Bone Bula juga sering melakukan pelatihan jurnalistik bagi siswa
SLTP dan SLTA di Donggala. Tujuannya mengajak siswa untuk memahami soal
jurnalistik secara sederhana sehingga tumbuh minat menulis di kalangan siswa,
minimal dapat melaporkan suatu kegiatan atau persoalan sederhana di lingkungan
sendiri. Penempatan koleksi masih sangat sederhana yang disatukan dalam lemari,
rak-rak buku dan sebagian masih disusun dalam dos. Selain ditempatkan di
sekretariat Bone Bula, juga sebagian koleksi ditempatkan di kediaman Jamrin
Abubakar (pengelola) di Kelurahan Maleni, Kecamatan Banawa. Sumber pengadaan
koleksi selain sumbangan dari per orangan dan lembaga swadaya masyarakat, juga
dilakukan pembelian di toko buku di Kota Palu, 36 km dari Donggala.
Perlu diketahui, Donggala
merupakan kota tua dan pusat perdagangan dan pelabuhan tua sejak zaman Hindia
Belanda yang secara geografis berada di ujung barat Teluk Palu. Donggala
juga menjadi ibu kota bagi Kabupaten Donggala yang merupakan salah satu dari 11
kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tengah. Kabupaten ini memiliki luas wilayah
5.275,69 kilometer persegi terdiri dari 16 kecamatan dengan total
penduduk 277.236 jiwa (SP 2010). Khusus ibu kota Donggala dalam hal ini
Kecamatan Banawa yang menjadi tempat Bone Bula berkedudukan memiliki jumlah
penduduk 32.042 jiwa yang tersebar pada 9 kelurahan dan 5 desa.*
Susunan Pengelola TBM
Bonebula
Pengawas
(Direktur
Yayasan Bone Bula) : Andi Anwar
Pengelola/Penanggungjawab
: Jamrin Abubakar
Sekertaris
Pengelola : Dahlia
Bagian
Informatika : Idris Sulaiman
Staf
pelayan pustaka : Dwi
Ningsih Andriyani
Erni Yuliani
Fredikson
Minggu, 22 Januari 2012
Kota Donggala Abad ke 18 PENYANDRAAN KAPTEN DAVID WOODARD DAN PERKAWINAN PUTRA BAJAK LAUT MINDANAO
Oleh: Jamrin Abubakar
Dalam sejarah bahari Indonesia, David Woodard
hanyalah salah satu dari sekian orang asing pernah datang ke Donggala dalam
petualangan. Woodard berada dalam penyndaraan di Donggala antara tahun
1793-1795. Selanjutnya setelah ia kembali ke Amerika melalui Makassar dan Batavia tahun 1795*
(Jamrin Abubakar, peminat sejarah dan budaya tinggal di Donggala)
DONGGALA, kota
tua di ujung barat Teluk Palu, Sulawesi Tengah banyak menyisahkan kisah masa
silam dalam lintas sejarah international. Nama dan cerita sosial politik pada
zamannya pun tercatat dalam sejumlah buku klasik yang ditulis para petualang dari
Barat.
Kota
Donggala sudah dikenal sejak abad XIII,
salah satu bandar niaga yang ramai dikunjungi bangsa-bangsa asing seperti
Tiongkok (Cina), Gudjarat (India), Spanyol, Portugis, Arab, Belanda dan
kerajaan-kerajaan Nusantara. Kota ini pernah menjadi salah satu gerbang perekonomian di Sulawei,
karena barang-barang yang masuk maupun yang keluar umumnya melewati Donggala, tempat berlabuhnya
beragam kapal niaga.
Selain
Josep Condrad, pengarang berkebangsaan Inggris kelahiran Polandia yang berkesan
terhadap Donggala, ada nama David Woodard seorang kapten kapal yang paling
berkesan dan lebih awal mengenal kota Donggala. Bisa jadi Josep Condrad datang
ke Donggala setelah membaca kisah perjalanan sang kapten David. Sedangkan Josep
sendiri menjadikan Donggala sebagai salah satu tempat penjelajahan Nusantara
(1858-1924) dan sempat menjalin persahabatan dengan La Sabanawa I Sangalea Dg
Paloera, raja Banawa palingke-7 (1845-1888).
Mengenai
kehadiran David Woodard seorang kapten kapal dagang Amerika
Enterprise bersama 4 orang anak buahnya di Donggala 1793-1795 disebabkan karena
penyandraan. Kisah kapten itu dapat
dibaca dalam bagian buku Indonesia Timur
Tempo Doeloe 1544-1992 dengan judul asli To the Spice Islands and Beyond Travels in Eastrn Indonesia, disusun
George Miller sejarawan Australia dan diterjemahkan oleh Maria Agustina dan
disunting Devy Lubis. Kisah tersebut sebetulnya lebih lengkap dalam buku The Narrative of Captain David Woodard
yang pernah diterbitkan di London.
Namun di sini saya hanya
membicarakan info dari buku Indonesia Timur Tempo Doeloe yang diterbitkan
Komunitas Bambu, Januari 2012. Salah satu bagian memuat tulisan David Woodard; Uniknya Kehidupan di Pantai Barat Sulawesi,
bersumber dari sebuah jurnal yang diterbitkan David tahun 1804. Buku ini merupakan bunga rampai
tulisan sejumlah petualang/penulis asing tentang wilayh-wilayah Timur Indonesia. Selain
memuat tentang Donggala (Sulawesi
Tengah), ada pula tulisan tentang Makassar, Toraja, Ternate, Papua, Lombok, Pulau Komodo, Timor-Timur dan lainnya
total ada 28 kisah masing-masing seorang penulis tentang wilayah Indonesia
Timur.
Di antara tulisan tersebut,
sebagai pembaca saya apresiasi khusus adalah kisah yang ditulis langsung David
Woodard dimana lokasi ceritanya telah menjadi bagian dari wilayah dimana saya
dapat merasakan tempat tersebut, DONGGALA. Meskipun dalam buku karya Miller ini
hanya bagian kecil kisah sang pelaut Woodard, tapi setidaknya pembaca dapat
memperoleh gambaran tentang kehidupan sosial politik, ekonomi dan budaya
masyarakat Kota Donggala abad ke 18 atau 219 tahun silam. Dari catatannya itu
pula dapat diketahui tentang tokoh agama Islam (bergelar Tuan haji) sudah sangat kuat dalam kehidupan politik yang
sangat “berpengaruh” pada pemimpin adat (raja) yang berkuasa.
Woodard bukanlah etnolog,
maka dalam mengidentifikasi orang yang tinggal di Donggala dan sekitarnya ketika
itu tidak berdasarkan sebutan etnis lokal. Melainkan dengan sebutan orang
Melayu sebagaimana lazimnya berbahasa Melayu di wilayah Nusantara, maka orang
Donggala diklasifikasikan sebagai Melayu.
Di antara kisah David
Woodard, yaitu sewaktu berada di Donggala tahun 1793 yang kehadirannya ketika
itu dianggap unik dan aneh oleh warga setempat. Bersama rekannya dikerumuni
warga, bahkan badannya diperiksa hingga didudukkan di kursi persidangan oleh kepala
suku atau sebagai raja. Saking ketakutan ia sempat berlutut di kaki kepala suku
untuk minta pengampunan agar tidak dibunuh. Hari pertama ia hanya disuguhkan
kelapa muda sebagai makanan, padahal mereka sangat lapar. Makanan selanjutnya
yang sering dinikmatinya yaitu jagung
dan makanan (roti) terbuat dari sagu, bahkan di antara rekan David ikut membuat
sagu di tengah hutan bersama warga. Apalagi mereka pun akhirnya menyatu dengan
masyarakat dan ditempatkan dalam sebuah rumah, sehingga dapat mencari sendiri
makanan.
Diceritakan suatu hari, ia
berhasil menangkap seekor babi hutan dengan cara menombak. Namun warga sempat
keberatan karena bagi warga muslim merupakan binatang haram dikonsumsi, namun
David kemudian setelah mengasapi daging itu ia sembunyikan dengan bukukusan
daun di tengah hutan. Setiap hendak makan barulah ia mengambilnya lagi, hal ini
dilakukan hingga 10 hari.
Perkawinan
Putra Raja Mindanao dengan Putri Raja Donggala
Pokoknya kisah pelaut itu
bukan saja menyedihkan dan tragis, tapi sekaligus diwarnai pergulatan yang lucu
di tengah masyarakat yang masih sangat polos ketika itu. Dari kisah itu pula
diceritakan ada seorang tokoh berpengaruh
dan sangat dihormati, akrab disapa Tuan Haji, namanya Haji Omar. Ketika seorang
raja yang juga bajak laut dari Mindanau, Filipina dengan nama Raja Tomba datang
ke Donggala dengan maksud melamar putri dari Tooa, Raja Donggala, maka Tuan
Haji itulah yang menjadi salah satu mengrus perkawinan. Ternyata antara Raja
dari Mindanao dan Tuan Haji itu sudah saling kenal sewaktu ia pergi ke Mindanao.
Sebutan raja Tooa (berarti
raja yang tua, David tidak menyebut nama sebenarnya raja itu). Kecuali putra
raja tooa disebutnya Arvo pada saat itu
kekuasaan telah dilimpahkan padanya sebagai raja muda Donggala).
Kesaksian Woodard dalam
prosesi pelamaran hingga perkawinan antara putra raja dari Mindanao dengan
putri Raja Donggala itu sangat menarik disimak, di situ digambarkan suasana
yang sangat dramatis sekaligus syarat dengan nilai-nilai kultur orang Donggala
ketika itu sangat kental. Imajinasi pembaca dapat merasakan betapa mewahnya
pesta anak raja ketika itu. Dalam
prosesi kedatangan putra Mindanao itu saja dilakukan secara teatrikal dengan
pertempuran palsu dikawal 20 awak kapal bersenjata lengkap yang kemudian
disambut pula 30 orang bersenjata dengan perisai lengkap hingga rombongan
menuju gerbang kota.
Tradisi
yang tersisa
Dalam kesaksian tentang
jejak-jejak kisah David Woodard tentang kota Donggala 200 tahun lebih di masa
silam itu, sudah banyak yang berubah dan tak terlacak. Di antaranya nama Travalla yang disebutnya sebuah kota
yang letaknya agak ke selatan dari Donggala. Di kota Travalla itulah pertama
kali David dibawa untuk diadili dalam pertemuan pertemuan.
Sebagai orang Donggala, pada
saat saya membaca tulisan tersebut, langsung bertanya-tanya yang manakah Travalla sekarang ini? Wah ini menarik
kalau tak jauh dari arah selatan Donggala dulu ada nama Travalla. Tapi tak ada
lagi yang mengetahui saat ini. Mungkinkan ini sebuah kota yang hilang? Atau
telah ganti nama? “Ini menarik dilacak kembali.” Begitu saya bertanya. Sebab
saat ini ada banyak nama permukiman di sana.
Terakhir setelah sempat
melakukan posting di facebook tentang
TRAVALLA itu, akhirnya saya mendapat informasi dari kawan Sairin kalau Travalla
menurut James T Collins (ahli sejarah bahasa) Travalla yang dimaksud oleh
Woodard adalah Towale. Nama Towale merupakan salah satu desa di Kecamatan
Banawa Tengah, sekitar 15 km dari Kota Donggala. Towale (Tovale) memang
merupakan kampung tua di Banawa yang kaya dengan cerita rakyat atau legenda
sejak zaman dahulu yang nyaris dipercaya sebagian warga setempat.
Sedangkan jejak masa silam
yang masih tersisa saat ini yaitu tradisi menenun kain (disebut sarung
Donggala) paling banyak terdapat di Towale. Pada saat Woodard datang ke
Donggala tahun 1793 ia masih menyaksikan orang membuat kain. Menariknya saat
itu bahan tenun semuanya terbuat dari kapas yang ditanam penduduk setempat dan
dipintal sendiri hingga menjadi kain sutra dengan pewarna celupan. Bedanya
dengan sekarang, tidak lagi dengan kapas buatan, melainkan dengan benang-benang
hasil pabrika modern.
Jejak pembuatan makanan dari
sagu hingga kini bisa pula disaksikan di Donggala, terutama di Kecamatan Banawa
Tengah dan Banawa Selatan tak jauh dari kota Donggala. Tradisi ini belum
berubah sejak kehadiran para bajak laut ke Donggala, ketika zaman hukum
internasional belum berlaku seperti saat ini.
(Jamrin Abubakar, peminat sejarah dan budaya tinggal di Donggala)
Donggala Sasaran Pemburu Barang Antik
DONGGALA-Wilayah Kabupaten Donggala masih menjadi sasaran pencari barang antik peninggalan purbakala. Sebab Donggala merupakan salah satu wilayah yang cukup tua yang pernah menjadi daerah persinggahan kapal-kapal asing zaman kerajaan, sehingga beberapa kawasan Pantai Barat Donggala hingga ke wilayah Pasangkayu, Sulbar kaya dengan benda purbakala.
Hal tersebut terungkap dari penelusuran Media Alkhairaat di Donggala, menyebutkan pemburu barang antik masih terjadi walaupun di satu sisi ada larangan dari pemerintah. Menurut Ikhsan seorang arkelogog Sulawesi Tengah soal purbakala itu tidak sembarangan dapat diambil, karena telah diatur dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yang menggantikan UU Benda Cagae Budaya No 5 Tahun 1992.
“Sayang sekali di kawasan Pantai Barat ada banyak cagar budaya tapi belum terdata. Di antaranya terdapat di Kecamatan Balaesang, Damsol dan juga ada di Kecamatan Rio Pakava dekat Banawa,” kata Ikhsan, Selasa, (22/3) 2011.
Keprihatinan senada juga dilontarkan antropolog dari FISIP Universitas Tadulako, Hapri Ika Poigi yang dihubungi kemarin. Menurutnya, selain di kawasan Pantai Barat menjadi sasaran perburuan barang antik yang dikategorikan cagar budaya, juga tertdapat di Kelurahan Ganti yang dikenal sebagai bekas Kerajaan Banawa. Cuma saja selama ini tidak diketahui pelestariannya, sehingga dikhawatirkan lebih banyak yang terbawa ke luar daerah oleh pembvuru barang antik ketimbang yang terselamatkan.
Sementara itu seorang kolektor barang antik di Kota Donggala, Samuel Soeryawinata mengakui kalau sampai saat ini di Kota Donggala dan sekitarnya ada banyak barang antik tersimpang. Namun belum semua terekploitasi, terutama di bagian pantai barat arah selatan Kabupaten Donggala, tepatnya seperti di Pasangkayu. Menurutnya dari usaha yang ditekuninya sejak tahun 1987, hasil perburuannya dari berbagai kawasan ditemukan barang-barang antik yang berusia ratusan tahun. “Bentuknya sangat beragam, ada yang berupa mangkok, piring, vas, muk, cerek, talang dan berbagai peralatan rumah tangga yang bernilai seni tinggi,” ungkap Samuel.
Di antara kawasan di Donggala yang sering ditemukan barang antik, seperti di Kota Donggala dan sekitarnya, Desa Labuan, Dalaka dan beberapa desa di utara Pantai Barat. Cuma saja masih banyak tempat yang belum ditelusuri, seperti di beberapa perbukitan di Gunung Lapaloang dan sekitarnya.
Dari hasil perburuan yang dimiliki Samuel, selain dari temuan lokal ada pula yang diperoleh dari berbagai kolektor di Pulau Jawa berupa keramik-keramik Cina. Masa pembuatannya dari Dinatsi Tang, Dinasti Song, Dinasti Yuang sampai Ching.
Selain itu ada koleksi dari hasil temuan lokal berupa taiganja, sanggori, tusuk konde dan berbagai asesoris lainnya. (JAMRIN AB)
Hal tersebut terungkap dari penelusuran Media Alkhairaat di Donggala, menyebutkan pemburu barang antik masih terjadi walaupun di satu sisi ada larangan dari pemerintah. Menurut Ikhsan seorang arkelogog Sulawesi Tengah soal purbakala itu tidak sembarangan dapat diambil, karena telah diatur dalam Undang-Undang No 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yang menggantikan UU Benda Cagae Budaya No 5 Tahun 1992.
“Sayang sekali di kawasan Pantai Barat ada banyak cagar budaya tapi belum terdata. Di antaranya terdapat di Kecamatan Balaesang, Damsol dan juga ada di Kecamatan Rio Pakava dekat Banawa,” kata Ikhsan, Selasa, (22/3) 2011.
Keprihatinan senada juga dilontarkan antropolog dari FISIP Universitas Tadulako, Hapri Ika Poigi yang dihubungi kemarin. Menurutnya, selain di kawasan Pantai Barat menjadi sasaran perburuan barang antik yang dikategorikan cagar budaya, juga tertdapat di Kelurahan Ganti yang dikenal sebagai bekas Kerajaan Banawa. Cuma saja selama ini tidak diketahui pelestariannya, sehingga dikhawatirkan lebih banyak yang terbawa ke luar daerah oleh pembvuru barang antik ketimbang yang terselamatkan.
Sementara itu seorang kolektor barang antik di Kota Donggala, Samuel Soeryawinata mengakui kalau sampai saat ini di Kota Donggala dan sekitarnya ada banyak barang antik tersimpang. Namun belum semua terekploitasi, terutama di bagian pantai barat arah selatan Kabupaten Donggala, tepatnya seperti di Pasangkayu. Menurutnya dari usaha yang ditekuninya sejak tahun 1987, hasil perburuannya dari berbagai kawasan ditemukan barang-barang antik yang berusia ratusan tahun. “Bentuknya sangat beragam, ada yang berupa mangkok, piring, vas, muk, cerek, talang dan berbagai peralatan rumah tangga yang bernilai seni tinggi,” ungkap Samuel.
Di antara kawasan di Donggala yang sering ditemukan barang antik, seperti di Kota Donggala dan sekitarnya, Desa Labuan, Dalaka dan beberapa desa di utara Pantai Barat. Cuma saja masih banyak tempat yang belum ditelusuri, seperti di beberapa perbukitan di Gunung Lapaloang dan sekitarnya.
Dari hasil perburuan yang dimiliki Samuel, selain dari temuan lokal ada pula yang diperoleh dari berbagai kolektor di Pulau Jawa berupa keramik-keramik Cina. Masa pembuatannya dari Dinatsi Tang, Dinasti Song, Dinasti Yuang sampai Ching.
Selain itu ada koleksi dari hasil temuan lokal berupa taiganja, sanggori, tusuk konde dan berbagai asesoris lainnya. (JAMRIN AB)
APBD Donggala 2912 Defisit Rp 14 Milyar
DONGGALA-Bupati Donggala, Habir Ponulele bersama Sekdakab Donggala Kasmuddin Haluddin melakukan penyerahan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) dan Alokasi Dana TP tahun anggaran 2012 bertempat di Ruang Kasiromu Kantor Bupati Donggala, Selasa (17/1). Secara resmi dirangkaikan pula dengan penyerahan pengelolaan pemanfaatan aset dan saranan sistem Simda versi baru kepada sejumlah Pimpinan Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemkab Donggala.
Setelah dilakukan penyerahan dokumen anggaran, Habir Ponulele dalam sambutannya menegaskan agar seluruh kepala SKPD segera mengambil langkah-langkah mempercepat persiapan pelaksanaan kegiatan salah satunya proses tender. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kelambatan dalam penyelesaian kegiatan akhir tahun anggaran yang berakibat pada terhambatnya proses pencairan dana.
Dalam penyerahan tersebut Bupati Donggala mengungkapkan tentang adanya defisit APBD tahun 2012 sebesar Rp 14 milyar lebih, sebab jumlah APBD sebesar Rp 651.446.048.436. sedangkan anggaran beanja mencapai Rp 665.573.502.356. adanya defisit tersebut, kata Habir Ponulele dapat dicukup seluruhnya dari anggaran pembiayaan yang mengalami surplus sebesar Rp 14 milyar lebih.
“Dengan mempertimbangkan sumberdaya keuangan yang tebatas serta permasalahan daerah yang cukup kompleks dan mendesak, maka sangat diharapkan APBD 2012 harus betul-betul responsif dalam memberikan pelayanan kepada publik,” harap Habir pada para pimpinan SKPD.
Selain itu bupati juga mengharapkan setiap SKPD harus mampu mengoptimalkan sumber daya yang tersedia dengan menggunakan kemampuan manajerial. Terutama mampu mengidentifikasi permasalahan kegiatan pemerintahan agar mencapai sasaran dan tujuan pembangunan di Kabupaten Donggala. Sebab agenda mendesak saat ini, kata Habir adalah penyusunan LKPJ dan LPPD tahun 2011 dan pengelolan bidang keuangan yang merupakan kompilasi dari laporan keuangan nantinya diserahkan ke DPRD sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran 2011. Namun dmeikian terlebih dahulu akan diaudit BPK untuk menghasilkan opini dapat berupa wajar tanpa pengecualian, wajar dengan pengecualian atau tidak wajar tanpa pengecualian.
Berdasarkan dokumen dari jumlah anggaran pendapatan Kabupaten Donggala Rp 651 milyar bersumberkan PAD sebesar Rp 22 milyar lebih, dana perimbangan Rp 660 milyar lebih dan pendapatan lain Rp 69 milyar lebih. Dalam penggunaan APBD tersebut serapannya diperuntukan bagi belanja pegawai, belanja barang dan jasa serta belanja modal terdiri atas 452 jenis kegiatan yang dikelompokkan alam 144 jenis program.(JAMRIN AB)
Pascaadipura Tempat Sampah Banyak yang Rusak
DONGGALA-Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Donggala, Ibrahim Drakel menegaskan agar warga Kota Donggala tetap berkomitmen terhadap pemeliharaaan lingkungan. Sebab masih ada kecenderungan warga membuang sampah secara sembarangan, sehingga kadang mengganggu pemandangan dan lingkungan. “Padahal sejak lama pemerintah sudah menyediakan temat sampah di seluruh tepi jalan di dalam kota. Itu pun tempatnya dua bagian berupa untuk sampah basah dan sampah kering, tapi toh kadang masih diabaikan,” ungkap Ibrahim Drakekel belum lama ini.
Menurutnya, masih adanya yang belum peduli dan memiliki rasa kebersamaan pemeliharaan tempat sampah sementara, akan menjadi beban. Padahal, kata Ibrahim sudah berkali-kali dilakukan sosialisasi dari tingkat kelurahan sampai ke RT, tapi toh masih sering terjadi adanya warga yang membuang sampah apda tempatnya.
“Padahal ke depan tantangan kita dalam pelestarian lingkungan, makin besar menyusul kriteria penilaian adipura tahun berikutnya pasti bertambah. Karena itu kami sangat mengharapkan bahwa tetap adanya komitmen secara bersama-sama bukan saja dari pemerintah, tapi juga dari masyarakat secara keseluruhan,”kata Ibrhami pada Media Alkhairaat.
Sementara itu aktivis lingkungan dari Yayasan Bone Bula Iwan Sulaiman menilai pascaperolehan Adipura ada kecenderungan komitmen memelihara lingkungan berkurang. Salah satu buktinya soal ternak kambing mulai berkeliaran lagi, sehingga kadang sangat mengganggu kenyamanan bagi kendaraan lalulintas dan merusak tanaman di taman. Padahal menjelang penilaian Adipura beberapa waktu lalu dilakukan razia ternak dan pemerintah menerapkan Perda Tentang Ternak, namun setelah Adipura diraih tidak ada lagi ketegasan.
Iwan menilai jadi yang harus ditanamkan adalah rasa memiliki dan kepedulian masyarakat secara komitmen yang seiring dengan peraturan yang diterapkan pemerintah. Jangan hanya razia ternak dilakukan pada saat akan meraih adipura dan sebaliknya diharapkan warga harus tetap memelihara ternaknya di kandang agar tidak berkeliaran. (JAMRIN AB)
Perebutan Kursi Bupati Donggala 2013: SEJUMLAH TOKOH MULAI MENGINCAR
DONGGALA-Meskipun pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Donggala masih dua tahun lagi, tapi saat ini aroma “pertarungan” ke arah itu mulai tercium. Bahkan sejumlah nama tokoh sudah mulai menggelinding bakal calon (balon) bupati dalam forum diskusi non formal pada komunitas terbatas hingga gerakan “silaturahmi.” Hal tersebut menyiratkan kalau jabatan Bupati Habir Ponulele yang akan berakhir tahun 2013 mendatang, kini sudah mulai banyak diincar para tokoh yang baru maupun tokoh lama yang pernah ikut bertarung pada Pilkada 2008 silam.
Bahkan momentum bulan suci Ramadhan ini sejumlah tokoh sudah memasang foto dalam spanduk dan baliho berisi selamat menjalankan ibadah puasa, padahal di antaranya tahun-tahun lalu tidak mereka lakukan. Di antara mereka yaitu Namrud Mado dan Muhammad Nasir (keduanya Ketua DPRD Donggala), Akris Fattah Yunus (Ketua HPA Donggala/Kadis PU), dan beberapa tokoh Donggala dari perantauan. Tafsiran publikpun muncul kalau kehadiran baliho-baliho yang tersebar di Kecamatan Banawa maupun di kawasan Pantai Barat sebagai ajang “pengenalan diri.” Bahkan ada di antara tokoh telah menyebarkan kalender bergambar dirinya.
Ahmad Mardjanu yang saat ini menjabat Ketua DPRD Donggala pada beberapa kesempatan menghadiri undangan menyatakan kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Donggala ke depan. Bahkan saat ditemui pekan lalu, Ahmad Mardjanu kembali menyatakan kesiapannya. “Ya, saya tidak menutup-nutupi keinginan untuk maju sebagai salah satu kandidat nantinya kalau memang dipercayakan. Tetapi tentunya secara internal di partai kita tetap melakukan survey dulu di tengah masyarakat siapa yang diinginkan,” tegas Ahmad Marjanu pada Media Alkhairaat.
Kabar dari nonpartai dating pula dari seorang tokoh muda asal Donggala yang berkarier di salah kantor di Provinsi Sulteng yaitu M. Ilham Pettalolo juga sudah menyatakan keseriusan untuk mencalonkan diri pada Pilkada Bupati Donggala 2013 mendatang. Hal itu diungkapkan pada diskusi berkala yang dilaksanakan di halaman eks BNS Donggala beberapa waktu lalu. “Bahkan belakangan ini Ilham Pettalolo sudah mulai turun ke publik melakukan sosialisasi, karena kemungkinan ia maju melalui jalur perseorangan,” kata salah satu keluarga dekat Ilham.
Sedangkan Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulteng Asgar Ali Djuhaepa menjelang bulan Ramadhan lalu di Kecamatan Banawa juga melakukan pertemuan dengan masyarakat di Ganti. Dalam pertemuan tersebut meskipun Asgar tidak menyatakan secara tegas akan maju sebagai calon bupati, namun secara simbolis pernyataan bahwa akan menunggu hasil survey lebih dahulu, telah memberi sinyal ke publik tentang keinginannya itu.
Pendapat senada juga diutarakan Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Donggala, Gosetra Mutaher. “Secara internal PAN juga akan melakukan sebuah survey lebih dahulu untuk menghasilkan satu orang bakal calon, sehingga hasilnya betul-betul sesuai realitas,” kata Gosetra, kemarin.
Gosetra yang kini menjadi anggota DPRD Donggala juga tidak menampik soal adanya keinginan untuk menjadi bakal calon menghadapi Pilkada mendatang. Menurutnya, dari beberapa partai yang memiliki kursi di DPRD Donggala sudah menjalin komunikasi awal untuk kemungkinan melakukan koalisi ke depan. Tetapi sekali lagi, kata Gosentra menunggu hasil survey. Pernyataan serupa juga diungkapkan Sekretaris DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Donggala, Abdul Rasyid soal siapa yang bakal diusung partainya tergantung hasil survey di lapangan.
Sekedar diketahui pasangan Bupati-Wakil Bupati Donggala, Habir Ponulele - Aly Lasamaulu (Halal) akan berakhir 2013 mendatang. Meskipun dua tahun lagi, saat ini beberapa nama yang santer disebut-sebut publik Donggala bakal menjadi calon bupati yaitu Aly Lasamaulu (Wakil Bupati Donggala), Namrud Mado (Ketua DPC PPP Donggala), Kasmuddin Haluddin (Sekkab Donggala), Gosentra Mutaher (Ketua DPD PAN Donggala) dan Patrisia Lamarauna (Komisioner KPU Sulteng). Tak kalah serunya, empat tokoh yang bernah ikut bertarung pada Pilkada Donggala tahun 2008 yang kemudian kalah, kini disebut-sebut akan kembali lagi berlaga.
Keempatnya adalah Datu Wajar Lamarauna (kini Ketua DPD Partai Gerindra Donggala, pada saat Pilkada 2008 melalui jalur perseorangan) dan Kasman Lasa (kini Karo Perlum Setprov Sulteng yang pada saat Pilkada 2008 diusung PKS dan PKPI). Sedangkan Maulidin Labalo (yang pernah diusung koalisi partai pada Pilkada 2008, kini menempati posisi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Donggala. Sama halnya dengan posisi Abubakar Aldjufri (mantan anggota DPRD Donggala saat ini juga telah menjadi pengurus DPD Partai Golkar Donggala walau pernah menjadi rival Habir Ponulele pada Pilkada 2008 lalu. Namanya saat ini cukup diperhitungkan salah satu di antara sejumlah kader Partai Golkar yang bakal diusung pada pilkada mendatang.
Selain itu beberapa nama lain disebut-sebut cukup berpeluang bila maju pada Pilkada Donggala mendatang, di antaranya Burhanuddin Yodo (pengusaha tambang), Mahfud Lamakampali (mantan Sekertaris Golkar Donggala/Kepala BPMPD Donggala), Abdul Rasyid Thalib (akademisi), Anita B Nurdin (Kadis Kesehatan Donggala) dan Idham Palaguma (Perhubungan/Bea Cukai). Sedangkan beberapa nama tokoh birokrat lainnya yang santer pula disebut-sebut di antaranya Zainal Arifin H. Tongko (Kepala Badan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kota Palu/tokoh Pantai Barat), Akris Fattah Yunus (Kadis PU Donggala), Masrin Karama (Kadis Sosial Donggala) dan beberapa nama lainnya. (JAMRIN AB)
Bahkan momentum bulan suci Ramadhan ini sejumlah tokoh sudah memasang foto dalam spanduk dan baliho berisi selamat menjalankan ibadah puasa, padahal di antaranya tahun-tahun lalu tidak mereka lakukan. Di antara mereka yaitu Namrud Mado dan Muhammad Nasir (keduanya Ketua DPRD Donggala), Akris Fattah Yunus (Ketua HPA Donggala/Kadis PU), dan beberapa tokoh Donggala dari perantauan. Tafsiran publikpun muncul kalau kehadiran baliho-baliho yang tersebar di Kecamatan Banawa maupun di kawasan Pantai Barat sebagai ajang “pengenalan diri.” Bahkan ada di antara tokoh telah menyebarkan kalender bergambar dirinya.
Ahmad Mardjanu yang saat ini menjabat Ketua DPRD Donggala pada beberapa kesempatan menghadiri undangan menyatakan kesiapannya untuk mencalonkan diri sebagai Bupati Donggala ke depan. Bahkan saat ditemui pekan lalu, Ahmad Mardjanu kembali menyatakan kesiapannya. “Ya, saya tidak menutup-nutupi keinginan untuk maju sebagai salah satu kandidat nantinya kalau memang dipercayakan. Tetapi tentunya secara internal di partai kita tetap melakukan survey dulu di tengah masyarakat siapa yang diinginkan,” tegas Ahmad Marjanu pada Media Alkhairaat.
Kabar dari nonpartai dating pula dari seorang tokoh muda asal Donggala yang berkarier di salah kantor di Provinsi Sulteng yaitu M. Ilham Pettalolo juga sudah menyatakan keseriusan untuk mencalonkan diri pada Pilkada Bupati Donggala 2013 mendatang. Hal itu diungkapkan pada diskusi berkala yang dilaksanakan di halaman eks BNS Donggala beberapa waktu lalu. “Bahkan belakangan ini Ilham Pettalolo sudah mulai turun ke publik melakukan sosialisasi, karena kemungkinan ia maju melalui jalur perseorangan,” kata salah satu keluarga dekat Ilham.
Sedangkan Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sulteng Asgar Ali Djuhaepa menjelang bulan Ramadhan lalu di Kecamatan Banawa juga melakukan pertemuan dengan masyarakat di Ganti. Dalam pertemuan tersebut meskipun Asgar tidak menyatakan secara tegas akan maju sebagai calon bupati, namun secara simbolis pernyataan bahwa akan menunggu hasil survey lebih dahulu, telah memberi sinyal ke publik tentang keinginannya itu.
Pendapat senada juga diutarakan Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Donggala, Gosetra Mutaher. “Secara internal PAN juga akan melakukan sebuah survey lebih dahulu untuk menghasilkan satu orang bakal calon, sehingga hasilnya betul-betul sesuai realitas,” kata Gosetra, kemarin.
Gosetra yang kini menjadi anggota DPRD Donggala juga tidak menampik soal adanya keinginan untuk menjadi bakal calon menghadapi Pilkada mendatang. Menurutnya, dari beberapa partai yang memiliki kursi di DPRD Donggala sudah menjalin komunikasi awal untuk kemungkinan melakukan koalisi ke depan. Tetapi sekali lagi, kata Gosentra menunggu hasil survey. Pernyataan serupa juga diungkapkan Sekretaris DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Donggala, Abdul Rasyid soal siapa yang bakal diusung partainya tergantung hasil survey di lapangan.
Sekedar diketahui pasangan Bupati-Wakil Bupati Donggala, Habir Ponulele - Aly Lasamaulu (Halal) akan berakhir 2013 mendatang. Meskipun dua tahun lagi, saat ini beberapa nama yang santer disebut-sebut publik Donggala bakal menjadi calon bupati yaitu Aly Lasamaulu (Wakil Bupati Donggala), Namrud Mado (Ketua DPC PPP Donggala), Kasmuddin Haluddin (Sekkab Donggala), Gosentra Mutaher (Ketua DPD PAN Donggala) dan Patrisia Lamarauna (Komisioner KPU Sulteng). Tak kalah serunya, empat tokoh yang bernah ikut bertarung pada Pilkada Donggala tahun 2008 yang kemudian kalah, kini disebut-sebut akan kembali lagi berlaga.
Keempatnya adalah Datu Wajar Lamarauna (kini Ketua DPD Partai Gerindra Donggala, pada saat Pilkada 2008 melalui jalur perseorangan) dan Kasman Lasa (kini Karo Perlum Setprov Sulteng yang pada saat Pilkada 2008 diusung PKS dan PKPI). Sedangkan Maulidin Labalo (yang pernah diusung koalisi partai pada Pilkada 2008, kini menempati posisi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Donggala. Sama halnya dengan posisi Abubakar Aldjufri (mantan anggota DPRD Donggala saat ini juga telah menjadi pengurus DPD Partai Golkar Donggala walau pernah menjadi rival Habir Ponulele pada Pilkada 2008 lalu. Namanya saat ini cukup diperhitungkan salah satu di antara sejumlah kader Partai Golkar yang bakal diusung pada pilkada mendatang.
Selain itu beberapa nama lain disebut-sebut cukup berpeluang bila maju pada Pilkada Donggala mendatang, di antaranya Burhanuddin Yodo (pengusaha tambang), Mahfud Lamakampali (mantan Sekertaris Golkar Donggala/Kepala BPMPD Donggala), Abdul Rasyid Thalib (akademisi), Anita B Nurdin (Kadis Kesehatan Donggala) dan Idham Palaguma (Perhubungan/Bea Cukai). Sedangkan beberapa nama tokoh birokrat lainnya yang santer pula disebut-sebut di antaranya Zainal Arifin H. Tongko (Kepala Badan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan Kota Palu/tokoh Pantai Barat), Akris Fattah Yunus (Kadis PU Donggala), Masrin Karama (Kadis Sosial Donggala) dan beberapa nama lainnya. (JAMRIN AB)
Langganan:
Postingan (Atom)



